Pos

Model Distribusi Industri Fast Moving Consumer Goods

Fast Moving Consumer Goods (FMCG) merupakan industri yang menjadi primadona bisnis distribusi di seluruh dunia. FMCG mencakup seluruh kebutuhan sehari-hari baik komoditas maupun non komoditas yang kepentingannya tidak dapat digantikan oleh barang lain. Produk FMCG biasanya memiliki masa simpan atau kadaluwarsa yang relatif singkat, karena sifatnya yang mudah rusak. Di Indonesia terdapat setidaknya empat kategori produk FMCG yaitu home care and personal care, food and beverages, rokok dan alkohol.

Home care and personal care meliputi  produk untuk perawatan rumah dan pribadi, seperti kosmetik, perlengkapan mandi, alat kebersihan, pakaian dan lain sebagainya. Sementara food and beverages adalah bahan-bahan makanan serta minuman yang bisa langsung dikonsumsi atau harus diolah terlebih dahulu diantaranya gula, kopi, teh, susu, mi instan dan biskuit.

 

Bagaimana perkembangan bisnis FMCG di tanah air?

Perkembangan jumlah penduduk, pergeseran pola perilaku  serta semakin menjamurnya produsen FMCG membuat industri ini sangat dinamis. Tuntutan konsumen akan ketersediaan barang yang cepat dan berkualitas membuat pelaku bisnis ini semakin kreatif dan inovatif, tidak saja dalam hal produksi namun juga di sisi marketing. Kini, channel pemasaran pun sudah melebar dengan hadirnya platform-platform digital yang membuat FMCG sama seperti produk lain. Tidak heran jika sudah banyak Ibu rumah tangga yang membeli sabun, kecap bahkan bumbu masak melalui online shop.

Statista.com, menyebutkan per kuartal ketiga 2020, bisnis FMCG di tanah air naik 8,8% (YoY) dengan persentase 19% dari total pengeluaran rumah tangga di Indonesia. Sementara trade/pasar terbesar masih berada di traditional trade. Selama pandemi, industri FMCG nyaris tidak berdampak signifikan dibandingkan sektor-sektor bisnis lain.

Perkembangan bisnis FMCG mendorong bisnis-bisnis pendukungnya pun bergerak maju, salah satunya distribusi. Semakin luas target penyebarluasan satu produk, maka distribusi pendukungnya pun harus lebih tersebar. Tidak heran, bisnis distribusi di tanah air termasuk bisnis yang tetap bertahan walau pandemi melanda.

Lalu, bagaimana model distribusi FMCG di Indonesia?

Dengan pasar tradisional sebagai saluran terbesar, model distribusi FMCG di tanah air masih sangat mengandalkan sales force.  Saluran tradisional disini, tidak berarti pasar tradisional, tetapi juga toko-toko kelontong, warung-warung bahkan pedagang kaki lima. Sales force tidak saja sebagai perantara antara produsen dan konsumen, tetapi juga pembangun hubungan dan kemitraan antara produsen dan grosir/peritel/pengecer.

 

 

Sebelum sampai ke tangan grosir atau ritel, sejatinya proses distribusi sudah dimulai dari pergudangan. Pertama,  produk  masuk  dari  supplier, saat  produk  masuk  ke  perusahaan  berarti  aliran produk dalam gudang ini sudah masuk ke dalam aktivitas receiving. Saat mengeluarkan  produk  dari  truk  ke docking  area, admin memiliki peran untuk mencocokkan kuantitas serta jenis  produk  yang  datang  dengan  faktur  pembelian. Aktivitas selanjutnya adalah storing yag memiliki beberapa detail  aktivitas  seperti menyimpan produk ke dalam tumpukan. Seluruh proses tersebut sering disebut inbound logistic.  Aktivitas terakhir adalah shipping, yaitu seluruh proses terkait pengiriman barang ke grosir atau peritel dan sering disebut outbond logistics.

 

Grosir di Indonesia dikenal dengan grosir besar dan grosir kecil. Perbedaannya ditentukan dari besar coverage area dan perputaran omzet-nya. Begitu juga dengan ritel atau pengecer. Ritel-ritel modern seperti minimarket biasanya memiliki perusahaan distribusi sendiri untuk mengefisienkan biaya dan membuat harga barang mereka menjadi lebih kompetitif.

 

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, banyak sekali tantangan distribusi FMCG di Indonesia seperti membuat titik-titik poin distribusi yang strategis, mengumpulkan dan menganalisis laporan dalam jumlah besar, mengevaluasi dan memprediksi penjualan, serta memilih aplikasi manajemen operasional yang dapat mengakomodir seluruh tantangan geografis dan manajemen. Tantangan tersebut membutuhkan penyelesaiannya sendiri-sendiri. Untuk menjawab tantangan tersebut dibutuhkan suatu sistem atau aplikasi digital yang dapat menjalankan serta memonitor seluruh fungsi distribusi.

Sumber: Freepik.com

Dengan perkembangan teknologi digital, semua permasalahan distribusi FMCG di Indonesia dapat diatasi. Scylla, Pronto dan Service desk dari Pratesis menjawab semua permasalahan distribusi dengan sistem yang saling terintegrasi satu sama lain. Sistem ini mendukung semua aktivitas bisnis mulai dari penjualan, stok barang, penanganan pelanggan, hutang piutang, pengantaran hingga laporan keuangan.

 

Semua data diolah dan diintegrasikan, dengan menggunakan platform berbasis cloud. Penggunaan cloud sendiri sebenarnya sudah sering dilakukan dalam kehidupan sehari-hari walaupun hal tersebut belum dapat banyak disadari. Platform berbasis cloud dipilih karena perusahaan tidak perlu menyediakan server dan storage, serta memikirkan biaya pemeliharaan. Selain itu, platform cloud terbilang lebih mudah dan terjangkau dibandingkan mereka harus mengintegrasikan data secara manual.