omni

RITEL OMNIKANAL

DUNIA BARU BISNIS RITEL

Dunia ritel menjadi saksi gelombang perubahan besar dalam sepuluh tahun terakhir. Evolusi perdagangan elektronik (e-commerce) hingga media sosial dan mobilitas telah melahirkan beragam variabel yang layak menjadi pertimbangan, selain bangunan fisik dan pola dagang konvensional. Para peritel mulai menganut filosofi “Omnikanal”. Gagasan ini dipilih karena mampu memberikan ruang yang luas bagi konsumen untuk melakukan berbagai interaksi dan transaksi, baik lewat saluran personal, daring, maupun telepon dengan jaminan hasil dan tingkat pelayanan yang sama dengan toko konvensional.

omni-channel

Omnikanal (omnichannel atau omni-channel) merupakan pendekatan penjualan melalui banyak saluran sebagai upaya mempermudah kegiatan belanja pelanggan secara online lewat komputer atau perangkat seluler, via telepon, atau kunjungan ke toko fisik.

Bagi banyak peritel, perluasan operasi memang penuh pertaruhan. Namun, jika ingin mengimbangi laju evolusi dan memenuhi ekspektasi pelanggan, risiko tersebut harus berani diambil. Buktinya ada banyak bisnis yang berhasil mengapitalisasi peluang baru tanpa mereduksi nilai utama mereka. Selain itu, model omnikanal juga memberikan manfaat lewat tingkat kompleksitas dan ragam tantangan. Tanpa ekosistem yang seimbang dan mampu beradaptasi, para peritel akan sangat kerepotan. Mereka justru terbelit kerumitan operasional sehingga sulit mengambil dan menerapkan strategi baru.

4 tantangan terbesar untuk Ritel Omnikanal

Menyesuaikan persediaan dengan permintaan dari segala kanal

Zaman sekarang, pembeli menggunakan beragam saluran untuk melakukan riset dan pembelian produk. Alhasil, peritel semakin sulit melakukan pemetaan kebutuhan persediaan. Meski begitu, tidak jarang perbelanjaan omnikanal justru membuka mata para peritel sehingga mereka dapat melihat kelemahan pada sistem lama. Konsep omnikanal dapat menguak permasalahan alokasi, laporan terkonsolidasi, inventaris, pemasaran, pengiklanan, serta layanan purnajual dan promosi yang harus dihadapi peritel selama ini.

Saat meriset, pelanggan mencari peritel yang memiliki informasi yang tepat dan akurat. Pelanggan juga berharap semua itu dapat terintegrasi di dalam satu saluran. Mereka ingin bisa membeli secara online dan menerima paket tanpa menunggu lama, kalau bisa di hari yang sama. Belum lagi saat mereka ingin mengembalikan atau menukar barang.

Menjaga persaingan di pasar penuh perubahan

Pendekatan ritel omnikanal terbilang cukup rumit. Perusahaan raksasa internasional dengan daya beli yang lebih besar tak jarang ikut meramaikan bursa persaingan. Menyiasati keadaan ini, peritel pasar menengah mencari akal untuk memangkas jumlah mata rantai pasok mereka. Contohnya, sebagian dari mereka memilih terhubung langsung dengan produsen. Sebagian lagi mulai memasuki dunia ekspor-impor. Ada lagi yang menggeser komoditas ke pasar yang lebih potensial.

Menawarkan nilai tambah

Dewasa ini, pelanggan lebih teliti dengan pilihan harga dan semakin cerdas dalam menilai produk karena sering berinteraksi dengan ritel omnikanal dan media sosial. Di sinilah terletak kesempatan bagi peritel untuk menunjukkan keunikannya.

Perdagangan elektronik (e-commerce) dan saluran digital telah memunculkan beberapa hal baru yang perlu dipikirkan dalam proses perencanaan strategi pemasaran. Tantangannya, peritel harus mampu menciptakan bentuk pemasaran terpadu dan iklan yang membekas di benak pelanggan.

Saat ini pelanggan sudah biasa berhadapan dengan aneka pilihan belanja. Jika peritel mampu memberi saran bermanfaat dan menampilkan nilai lebih di balik harga suatu produk, niscaya pelanggan akan membelinya.

Memahami Pelanggan lewat Beragam Saluran

Peritel harus bisa menjaring data dari berbagai kanal, lalu mengolahnya menjadi informasi yang berguna. Data yang besar, tidak terstruktur, terus berubah, dan tersebar di banyak kanal ini sering disebut dengan istilah “mahadata” (big data). Untuk memahami pelanggan dengan tepat, peritel harus mampu mencerna data ini.

Peritel boleh saja melihat big data sebagai satu ‘lumbung’ tersendiri, tetapi semua data yang telah dikumpulkan tersebut hendaknya diseragamkan ke dalam satu bentuk platform bisnis. Dengan demikian, big data dapat dimanfaatkan dengan maksimal.

Karena pelanggan kian akrab dengan berbagai jenis perdagangan, baik lewat saluran tradisional maupun digital, peritel perlu berbenah agar ekosistem operasional mereka mampu memenuhi ekspektasi ini. Pertanyaannya bukan secepat apa peritel mampu merespons dan menyelaraskan rantai nilai dengan format ritel omnikanal, tetapi pendekatan strategis apa yang akan diambil.

Peritel dapat mengubah tantangan menjadi kesempatan secara efisien dan hemat biaya dengan mengaplikasikan sistem IT yang terpadu. Jangan sampai pelaku bisnis ritel menyia-nyiakan manfaat metode penjualan omnikanal ini. Dibekali kemampuan memetakan pelanggan lewat analisis big data dan alat penyelaras proses internal, peritel masa kini siap memaksimalkan potensi ritel omnikanal.