Tradition

PERDAGANGAN TRADISIONAL

PENGGERAK SENDI BISNIS RITEL INDONESIA

Praktik perdagangan tradisional tersebar luas di seluruh Indonesia, tetapi terpecah di berbagai wilayah. Dalam sistem perdagangan ini kantor cabang atau distributor pihak ketiga di sebuah lokasi merupakan infrastruktur penting dalam menjamin pasokan efektif ke gerai-gerai. Keduanya memiliki peran kunci dalam penjualan, pergudangan, akuntansi, dan distribusi.

Studi terbaru menunjukkan bahwa perdagangan tradisional akan tetap menjadi roda penggerak utama dalam lanskap ritel Indonesia hingga satu setengah dekade mendatang. Perdagangan tradisional, yang meliputi pasar basah dan warung, adalah penyumbang 85,2 persen dari total 95 miliar dolar AS nilai ritel serba ada. Tahun 2017, pasar tradisional diperkirakan masih akan menyumbang 82,3 persen dari total transaksi senilai 147 juta dolar AS untuk bisnis ritel. Laju pertumbuhan majemuk tahunan (CAGR) pasar tradisional berada di angka 8 persen antara tahun 2007 dan 2017.

Perdagangan tradisional masih berperan penting karena banyak wilayah Indonesia berupa pedesaan atau semi-pedesaan. Selain itu, konsumen Indonesia cenderung membeli dalam ukuran kecil, misalnya mereka lebih memilih sampo dalam kemasan saset ketimbang botol. Perilaku ini menunjukkan strategi konsumen dalam memperoleh barang bagus dengan harga terjangkau.

Saat ini hidup 12 juta orang bergantung langsung pada pasar tradisional dan sekitar 50 juta orang mengandalkan jenis pasar ini secara tidak langsung. Sektor pasar tradisional merupakan wadah lapangan kerja terbesar kedua di Indonesia setelah sektor pertanian.

Profil Perdagangan Tradisional di Indonesia

Pedagang Grosir

Pedagang grosir umumnya menjalankan bisnis mereka dengan cara memasok barang dalam kemasan kardus ke gerai-gerai yang lebih kecil dan melakukan perdagangan grosir di kota-kota lain. Toko grosir membeli barang dalam jumlah besar sehingga dapat memasok gerai yang lebih kecil. Biasanya pelangganlah yang datang ke toko grosir untuk membeli barang. Namun kadang toko grosir juga menggunakan tenaga pemasaran untuk berkeliling dan menjual langsung ke toko-toko secara tunai. Beberapa pedagang grosir sering memberikan perpanjangan waktu cicilan untuk pembeli langganan. Cara ini tidak dapat diterapkan oleh pusat atau distributor.

Pedagang Semi-Grosir

Jenis pedagang ini mirip dengan pedagang grosir tetapi tidak melulu menjual barang dalam kemasan kardus. Mereka juga menjual barang eceran dan punya etalase untuk memajang barang dagangan per produknya.

Peritel Besar

Merupakan toko ritel tradisional (atau toko barang kebutuhan sehari-hari) yang menjual barang secara eceran. Toko jenis ini kerap mencampur barang-barang konsumsi dengan kebutuhan harian seperti telur, beras, dll. Namun, ada juga jenis peritel besar secara khusus memilih untuk menjual Barang-Barang Konsumsi Cepat Habis saja atau kebutuhan harian saja.

Peritel Kecil (R1, R2, R3)

Dari tiga jenis peritel kecil ini, warung (R3) adalah kelas terkecil yang umumya berupa gerai yang terletak di kawasan perumahan. Gerai semacam ini, terutama yang letaknya di daerah pedesaan, tidak dapat dijangkau oleh tenaga pemasaran dari pusat atau distributor. Pemilik warung membeli barang dari pedagang grosir atau semi-grosir yang ada di daerah operasinya.

Gerai-gerai Perdagangan Tradisional dapat dijangkau oleh tenaga penjualan eceran yang berkeliling untuk menerima pesanan. Gerai-gerai yang lebih kecil biasanya didatangi tenaga penjualan keliling dengan menggunakan sepeda motor karena umumnya terletak di daerah terpencil.

Tidak semua gerai cocok untuk setiap produk. Ada gerai tersendiri khusus menjual produk-produk sembako. Meskipun bisa menjual barang lain, kondisi gerai ini sangat berbeda dengan toko-toko barang kering. Pengajuan penggantian stok sering terjadi khususnya untuk produk-produk dengan kemasan ringkih karena kerusakan akibat serangan hewan pengerat atau buruknya penanganan.

Pedagang grosir boleh jadi tampak seperti kanal satu atap yang meyakinkan. Namun mereka hanya melayani penjualan barang-barang cepat habis. Grosir enggan berurusan dengan barang-barang tidak cepat habis karena mereka hanya membeli barang berdasarkan permintaan toko-toko lebih kecil, yang nantinya akan membeli barang tersebut. Pedagang grosir paling meminati barang cepat habis dengan marjin laba sebesar mungkin. Beberapa distributor sering kali memainkan strategi diskon harga dan promosi dagang agar grosir segera menjual habis produk-produk mereka.