Blog Pratesis

Service Desk Memastikan Business Continuity Perusahaan

Salah satu upaya untuk memberikan pelayanan yang lebih baik kepada pelanggan adalah tersedianya Service Desk. Tak dipungkiri, pelayanan pelanggan merupakan kunci untuk memenangkan persaingan bisnis. Namun pelayanan pelanggan semata, masih kurang. Untuk itu, sekarang pelayanan pun harus sudah berbasis teknologi informasi.

online delivery

sumber : unsplah.com

Apa itu Service Desk? Berdasarkan panduan dari Information Technology Infrastructure Library (ITIL), Service Desk adalah single point of contact (SPOC) antara penyedia layanan dan pelanggan atau pengguna.

Dengan kata lain, Service Desk merupakan layanan pusat komunikasi, di mana customers (pengguna, karyawan dan stakeholder) mencari bantuan terkait dengan masalah -masalah IT, dan kemudian (tim Service Desk) mengirimkan solusinya kepada pelanggan tepat waktu.

Sejatinya, Layanan ini tidak hanya berfokus dalam mengelola incident dan request, tetapi juga menyediakan interface untuk proses lainnya, seperti Incident Management, Service Request, Clarification, User Education, dan sebagainya. Bahkan, di sebagian besar organisasi, Service Desk ini terintegrasi ke dalam proses bisnis lain seperti: pemesanan perjalanan, onboarding karyawan baru, data dan pelaporan, manajemen dokumentasi, dan sebagainya.

Singkatnya, adanya Service Desk memberikan keuntungan bagi perusahaan. Antara lain: meningkatkan kepuasan pelanggan, menurunkan total cost of ownership dari IT service, dan menurunkan biaya melalui efisiensi dan dukungan terhadap kelancaran IT services.

Selain itu, keuntungan lain dari adanya Service Desk adalah ketersediaan informasi tentang insiden tersebut untuk semua personel pendukung, pengurangan masa layanan insiden, prosedur yang lebih baik untuk melacak, meningkatkan dan menangani insiden. Juga, ketersediaan online dari informasi berkualitas lebih baik (termasuk tentang kesalahan yang diketahui, solusi dan riwayat kueri, serta sumber informasi eksternal), serta ketersediaan dan akurasi informasi manajemen yang lebih besar.

Service Desk muncul dengan tujuan yang lebih luas, strategis dan lintas fungsional. Seluruh tujuannya adalah untuk meningkatkan layanan TI dan prosedur bisnis tetap berjalan dan berfungsi seperti biasanya.

  • Service Desk Pratesis

Sebagai perusahaan penyedia layanan TI, Pratesis mengembangkan Service Desk sebagai solusi untuk menangani masalah dan laporan yang disampaikan oleh pelanggan atau konsumen, dengan memanfaatkan sistem penomoran (ticketing) yang memudahkan melacak dan memonitor jenis permasalahan yang masuk sehingga tindakan penyelesaian lebih cepat teratasi.

“Alasan utama kenapa kami memperkenalkan layanan ini adalah untuk menjawab pain point dari para prinsipal dalam memastikan business continuity terutama di area IT, sehingga day to day operation dapat berjalan lancar tanpa gangguan. Dan, prinsipal bisa lebih fokus di bisnis utamanya,”.

Adanya layanan ini akan membantu perusahaan meningkatkan pelayanan yang mendorong terjadinya pertumbuhan perusahaan dengan signifikan. Layanan ini menjadi solusi bagi customer pain terutama pada poin build internal IT team yang penuh dengan dinamika. Juga, meminimalisir pengeluaran belanja (capital expenditure) dan mengkonversinya menjadi pembelanjaan operasional (operational expenditure). Lagi, menjaga kelangsungan bisnis (business continuity), terutama dalam operasional hariannya.

Sebab, Service Desk Pratesis memiliki fungsi dan kemampuan yang canggih. Antara lain: knowledge base, multichannel, analytic dashboard, SPOC, online/offline implementation, dan issue handling. Ticketing tools pada Layanan Pratesis memiliki fungsi dalam mengorganisir daftar tugas yang dibuat berdasarkan prioritas, menyimpan semua riwayat informasi pelanggan, bekerja secara efisien karena menangani banyak masalah yang berbeda dalam waktu bersamaan. Selain itu, ticketing ini memberikan respon cepat atas permintaan pelanggan, memberikan solusi terbaik dari tim support, dan memberikan pelayanan secara profesional.

Service Desk Pratesis memiliki fitur dan kegunaan untuk mendukung permintaan dari pelanggan. Pertama, Incident Management, yang memberikan support dan solusi terkait dengan issue/cases. Kedua, Service Request, dengan memberikan bantuan terkait service yang diminta. Misalnya synchronization ulang data, dan sebagainya. Ketiga, Clarification, yaitu memberikan bantuan dan penjelasan terkait prosedur standar perusahaan (SOP) dan user guide. Keempat, User Education, untuk men-deliver knowledge terkait modul/fitur tertentu. Termasuk juga di dalamnya: Analisa, testing, patching dan release update. Kelima, Value Driver Capture, yang berfungsi untuk membuat catatan harian dan berbagai masukan.

Bagaimana alur kerja (workflow) dari Service Desk Pratesis ini? Setiap issue/request/user clarification yang datang dari pengguna akan diterima oleh tim Pratesis, baik melalui channel email, direct call, chatbot, untuk diberikan solusi atas masalah yang dihadapi. Jika perlu dieskalasi, maka tim akan mengeskalasi ke L2/L3 untuk mendapatkan solusi segera agar bisa kembali ditindaklanjuti ke pengguna.

”Semua aktifitas ini, dari awal akan dicatat ke dalam ticketing system kami agar dengan mudah bisa di-track dan di-monitoring. Dengan demikian respon dan SLA akan bisa dipertahankan sesuai ekspektasi,”

Strategi Mengoptimalkan Pesanan Online

Zaman sudah beralih ke era digital. Hampir seluruh aktivitas dapat bisa dilakukan secara online. Untuk ini, perlu disusun strategi pemesanan online yang tepat, karena tanpa perlu keluar rumah, orang sudah bisa mendapatkan semua kebutuhan bahkan mencari uang hanya dari kamar tidur. Terlebih di masa pandemi ini, penggunaan perangkat digital semakin meningkat, mobilitas manusia yang harus dikurangi secara besar-besaran seakan bukan penghalang lagi, karena ada cara yang lebih praktis dan efisien dalam mendapatkan berbagai barang dan atau jasa.

online delivery

sumber : freepik.com

Penjualan di beberapa marketplace mengalami peningkatan hingga berkali-kali lipat selama masa pandemi. Semua karena kebiasaan orang kini berpindah, dari berbelanja secara offline menjadi berbelanja online.

Sebagai pemilik perusahaan, Anda tentu harus beradaptasi dengan kondisi ini. Anda sudah harus melek teknologi agar dapat ikut bermain di serunya pasar digital.

Salah satu hal yang harus Anda lakukan adalah membuka jalur pemesanan online. Untuk ini, perlu disusun strategi pemesanan online yang tepat, agar produk cepat diterima konsumen. Inilah strategi yang bisa Anda lakukan agar bisnis Anda meningkat melalui pemesanan online:

    1. Siapkan Pintu

Pintu yang dimaksud adalah tempat para pelanggan bisa memesan produk Anda. Pintu itu bisa berupa website, media sosial, atau marketplace. Jangan ragu membuat website karena bisa menjadi pondasi utama supaya penjualan semakin luas, berkembang, dan dikenal khalayak tentunya. Jika di dunia nyata Anda punya toko fisik dan karyawan yang menjaganya, maka di dunia maya website adalah ‘toko’ Anda dan admin adalah yang menjaga serta melayani pembeliannya. Sebaiknya website selalu online 24 jam, cepat diakses, anti ribet-ribet club, dan aman dalam transaksi.

    1. Gunakan Tema Profesional dan Dapatkan Pelanggan dari Trafik Organik

Layaknya sebuah toko, website juga harus memiliki tampilan eye catching serta menggunakan tema profesional. Tidak bisa dipungkiri, tampilan pertama mampu mempengaruhi calon konsumen.

Selanjutnya, website menerapkan teknik Search Engine Optimization (SEO) agar search engine friendly dan mudah ditemukan di hasil pencarian Google.

    1. Menerapkan Strategi Content Marketing

Anda sudah tidak asing lagi dengan kata konten, bukan. Konten bisa menjadi daya tarik tersendiri, terutama pada media sosial, seperti Facebook, Instagram, dan Twitter. Buatlah konten yang memiliki nilai manfaat, relate dengan perkembangan zaman, relevan, menarik, dan membangun komunikasi (audience).

Strategi konten marketing ini memungkinkan Anda mendapatkan trafik yang tinggi dan menjadi nilai jual. Informasi yang disampaikan bisa berupa produk, bahan yang digunakan, tips, fakta unik, serta manfaat yang dikemas dalam bentuk narasi artikel, gambar, dan video.

    1. Memahami Kebutuhan Konsumen Melalui Promosi dan Diskon

Siapa bilang promo dan diskon hanya bisa didapat saat belanja offline? Pecinta belanja online masa kini pun menginginkan kedua hal menarik ini. Percaya atau tidak, ketika dua kata magic ini digunakan, maka konsumen pun merasa tertarik untuk berbelanja meski sebenarnya belum terlalu diperlukan. Misal, memberikan hadiah sabun mandi setiap pembelian minimal 3 botol sampo. Agar memahami lebih dalam, pihak produsen atau perusahaan dapat melakukan survei atau polling sederhana.

    1. Memaksimalkan Kekuatan Personal Branding

personal branding

sumber : freepik.com

Terakhir, salah satu strategi pemesanan online untuk meningkatkan bisnis adalah memaksimalkan kekuatan personal branding. Personal branding berfungsi untuk mempromosikan diri beserta pencapaian yang dan meningkatkan kredibilitas, memperluas koneksi, dan meningkatkan kepercayaan konsumen.

Lalu, bagaimana caranya? Anda perlu menampilkan citra perusahaan sesuai portofolio, menguatkan website, memaksimalkan media sosial, dan strategi marketing yang handal. Jika diperlukan, bangun networking dan berkolaborasi dengan influencer, selebgram, atau blogger.

Itulah beberapa strategi pemesanan online untuk meningkatkan bisnis yang dapat Anda coba terapkan. Satu hal yang pasti, keberhasilan bisnis online dimulai dari kesiapan perusahaan dalam menghadapi perubahan dan kemajuan zaman yang sudah berbasis digital.

Implementasi Perfect Store Untuk Meningkatkan Penjualan

Pada artikel sebelumnya, kita sudah membahas apa itu Perfect Store dan mengapa pelaku bisnis FMCG harus menerapkannya. Definisi Perfect Store adalah toko dimana 6P (Product, Pack, Placement, Promotion, Price & Proposition) diterapkan dengan sempurna. Tujuannya agar pelanggan mendapat pengalaman belanja maksimal yang kemudian mendorong peningkatan pembelian barang. Perfect Store penting dalam industri FMCG karena mampu menyelaraskan profil setiap toko dengan kondisi pasar, serta merupakan cara menjangkau lebih banyak pelanggan.

 

implementasi perfect store1

sumber : unsplash.com

Pada dasarnya Perfect Store adalah toko yang menyajikan pengalaman berbelanja yang nyaman bagi konsumen. Konsep ini dapat diimplementasikan dengan bantuan pengecer dan agen/perwakilan penjualan mendorong membangun citra merek Konsep ini memang lahir dari perusahaan FMCG multinasional, dengan istilah yang berbeda-beda sepertiPerfect Store” oleh Unilever, “Golden Store” oleh P&G, “RED – Right Execution Daily” oleh Coca-Cola serta “Eksekusi Tanpa Cela (Flawless Execution)” oleh PepsiCo.

  • Lalu, bagaimana implementasi terbaik Perfect Store agar dapat membantu meningkatkan penjualan?

implementasi perfect store2

sumber : freepik.com

    1. Mengetahui Pola Perilaku Konsumen

Perusahaan yang bergerak di produk FMCG kerap melakukan riset untuk mengetahui pola perilaku konsumennya, salah satunya bagaimana pergerakan atau lintasan konsumen di dalam toko. Dengan mengetahui pola-pola impulsif pelanggan dalam berbelanja, pemilik merek dapat menentukan dimana posisi ideal produknya pada masing-masing toko. Contoh sederhana, seorang Ibu bisa jadi masuk ke minimarket hanya untuk membeli roti, namun karena disamping rak roti ada selai dan mentega, Ia pun secara impulsif membeli dua barang itu. Begitu juga barang-barang kebersihan di dalam rumah, selalu berada pada kelompoknya. Tidak heran juga, di dekat pembersih noda terdapat kain lap yang digantung begitu saja. Semua hal tersebut pada dasarnya untuk mendorong sikap impulse buying.

    1. Menerapkan 5P dengan sempurna

 

Product, Placement, Promotion, Price, Pack dan Proposition (6P) merupakan hal paling mendasar dalam implementasi Perfect Store.

Produk (product) yang ditempatkan di toko sangatlah penting. Tidak semua toko perlu menjual produk yang sama, banyak faktor pertimbangan lokasi toko terbaik untuk masing-masing produk. Pendekatan dengan target pengunjung setiap wilayah toko dapat membantu menciptakan basis pembelanja setia. Ketersediaan produk juga perlu diperhatikan. Untuk barang-barang dengan sifat substitusi yang tinggi, saat produk kita terlambat sampai atau kosong, dapat menyebabkan konsumen berpindah ke merek kompetitor.

Dari sisi “placement” sangat penting dipikirkan, dimana produk diletakkan pada toko agar memancing pembelian baru. Contoh kita sering sekali melihat di kasir terdapat mainan dan makanan anak. Pemilik toko memahami, orang tua yang berbelanja membawa anak, akan menghabiskan waktu saat antri membayar. Saat itulah, fokus mata anak akan tertuju pada barang-barang di depan kasir yang mendorong terjadinya pembelian.

Sementara itu, promotion dan price merupakan dua hal yang tidak terpisah. Promotion dapat berupa pengurangan harga, bundling dengan produk—produk lain, program hadiah atau inisiatif-inisiatif lain. Sementara penentuan harga adalah bagaimana barang tetap kompetitif, mengingat konsumen FMCG adalah konsumen yang cukup sensitif terhadap harga.

Kemasan atau packaging turut menentukan keputusan pembelian dari konsumen. Untuk itu sangat perlu dikembangkan kemasan yang menarik sesuai target pasar produk masing-masing. Terakhir adalah proposition, yaitu bagaimana produsen menentukan posisi produknya dibandingkan kompetitor, didalamnya termasuk keunikan serta “janji” apa yang diberikan kepada konsumen.

    1. Kembangkan Key Performance Indicators

Setiap toko ritel harus menentukan standar Perfect Store nya sendiri. Semua tergantung pada target pasar, saluran distribusinya dan lain-lain. Tetapi secara keseluruhan, bahwa terdapat 4 Key Performance Indicators (KPI) utama yang mempengaruhi keputusan pembeli, dan untuk itu Anda harus menentukan target yang jelas.

Empat KPI tersebut yaitu,

      1. Availability yang meliputi ketersediaan produk, variasi produk, penjelasan out of stock.
      2. Visibility yang meliputi bagaimana produk ditampilkan, bagian dan tingkatan rak, planogram, serta tata letak tampilan.
      3. Display yang meliputi (Jumlah produk ditampilkan, penempatan etalase, pengenalan produk baru/NPI serta program promo.
      4. Value yang meliputi harga, perceived value, rekomendasi.

Keempat KPI tersebut harus dapat dimonitor dengan baik, agar penerapan Perfect Store berjalan dengan optimal.

Apa itu Perfect Store dan Bagaimana Cara Menerapkannya?

Apaitu penerapan Perfect Store? Saat berbelanja ritel ke toko, pernahkah kita berpikir bagaimana pekerja toko mengatur penempatan barang-barang di outlet? Apakah hanya dikelompokkan berdasarkan jenisnya, seperti makanan dan alat kebersihan pada tempat sendiri. Namun, sering kali kita melihat beberapa merek yang diletakkan pada rak-rak terdepan, sementara ada merek lain untuk jenis serupa yang diletakkan di belakang.

 

sumber : unsplash.com

  • Bagaimana bisa demikian?

Salah satu kebutuhan menghadapi kompetisi bisnis ritel adalah pemetaan penempatan strategis produk-produk di outlet, yang mudah menarik perhatian konsumen dan akan berdampak langsung pada peningkatan penjualan. Perfect store adalah metode yang mengakomodir kegiatan tersebut. Definisi Perfect store adalah toko dimana 6P (Product, Pack, Placement, Promotion, Price & Proposition) diterapkan dengan sempurna. Tujuannya agar pelanggan mendapat pengalaman belanja maksimal yang kemudian mendorong peningkatan pembelian barang. Perfect Store penting dalam bisnis FMCG karena mampu menyelaraskan profil setiap toko dengan kondisi pasar, serta merupakan cara menjangkau lebih banyak pelanggan.

Penggunaan terminologi yang dipakai berbeda-beda untuk setiap perusahaan FMCG, namun sebenarnya merujuk pada kegiatan yang sama. “Perfect Store” digunakan oleh Unilever, “Golden Store” oleh P&G, “RED –Right Execution Daily” – oleh Coca-Cola, “Flawless Execution” oleh PepsiCo dan “Pictures of Success” oleh Belfoods dan Sinarmas.

  • Penerapan Perfect Store

Penerapan Perfect Store bisa berbeda untuk tiap outlet. Seorang salesman atau salesforce harus mengetahui karakter setiap toko untuk menerapkan Perfect Store dengan baik. Beberapa faktor pertimbangan yang harus dianalisis dengan matang di setiap toko diantaranya:

  1. Bagaimana pengelompokan barang yang sesuai?
  2. Bagaimana strategi harga dan promosi yang terbaik?
  3. Dimana lokasi terbaik produk Anda di dalam toko?
  4. Bagaimana display terbaik?

Selain itu, prinsipal atau distributor juga harus mengetahui karakter pengunjung setiap toko. Karakter disini seperti bagaimana mereka memilih produk, bagaimana rute pengunjung saat memutari toko, termasuk bagaimana respon mereka terhadap promo-promo yang adalah di dalam toko. Pola pelayanan toko juga sangat mempengaruhi keputusan pembelian. Ini juga dapat menjadi pertimbangan distributor dalam memutuskan toko mana yang paling tepat untuk menjual produknya.

sumber : unsplash.com

Bagi pebisnis FMCG yang baru akan menerapkan Perfect Store, pola utama yang harus dilihat adalah saat pelanggan memasuki toko. Umumnya, mereka akan tertarik terhadap barang-barang yang mendapat display besar, di tempat strategis atau mendominasi. Kemudahan mendapatkan barang di rak juga sangat penting, misalnya satu merek mendapat posisi hingga 2-3 baris dalam satu rak sehingga posisinya terlihat dominan dan mencolok pandangan mata. Peluang pembelian umumnya akan lebih besar untuk produk-produk dengan display seperti ini.

Namun tugas toko tidak hanya membuat mereka membeli produk tersebut, namun bagaimana mereka memenuhi keranjang belanjanya lebih banyak lagi atau bagaimana “impulse buying” terjadi pada setiap konsumen. Agar impulse buying terjadi, maka toko perlu merancang strategi lain seperti promosi diskon,promosi bundling atau promosi member club.

Penerapan Perfect Store harus dibarengi dengan pengumpulan data yang akurat. Data-data ini akan menjadi dasar pengambilan keputusan untuk berbagai strategi penyempurnaan penerapan berikutnya atau implementasi yang sama di toko toko yang lain.

Perlunya Membangun Sistem Pemesanan Online

Sudah bukan jamannya lagi seluruh transaksi bisnis dilakukan secara langsung. Satu dekade terakhir, hampir seluruh bisnis dari B2B hingga B2C merambah dunia digital dan mengadopsi Sistem Pemesanan Online sebagai bagian paling krusial dari penjualan dan berbagai transaksi lain.  Perangkat mobile pun menjadi alat utama transaksi masa kini. Terlebih dalam satu tahun terakhir, di masa pandemi protokol kesehatan menjadi fokus baru kita. Teknologi kini menjadi kata kunci dalam mensukseskan aktivitas berbagai bisnis saat ini termasuk bisnis distribusi. 

sumber: unsplash.com

Tuntutan penggunaan teknologi pun kini menjadi hal mutlak yang harus dikuasai oleh hampir setiap perusahaan. Ketika pertemuan fisik dibatasi akibat pandemi yang belum juga berakhir, platform penjualan online dan e-commerce justru menuai peningkatan yang signifikan.  Dengan transaksi penjualan melalui jaringan internet, pemesanan dapat langsung dilakukan oleh konsumen karena informasi mengenai detail info produk sudah tercantum pada halaman katalog produk. Proses tawar menawar seperti transaksi konvensional juga dapat diminimalkan sehingga transaksi menjadi lebih efisien. Selain itu, dari sisi penjual pun proses pencatatan akan menjadi lebih mudah karena dilakukan secara otomatis dan pemantauan progress penjualan pun dapat dimonitor.

Hal paling penting dengan membangun sistem pemesanan online adalah mendorong tumbuhnya peluang-peluang baru. Mengapa demikian? Pertama, penduduk Indonesia tersebar di berbagai pulau, merupakan pangsa pasar yang sangat besar, adanya sistem pemesan online memudahkan perusahaan menjangkau pasar yang lebih luas. Kedua, adanya metode pemesanan online akan membantu perusahaan meningkatkan awareness merek karena informasi produk mudah diperoleh. Ketiga, pemesanan online membuat toko seolah “tidak perlu tutup”. Konsumen dapat melakukan pemesanan dimana pun dan kapan pun. 

Orlin dari Pratesis

Melihat kondisi dan peluang yang ada, Pratesis  membuat platform solusi B2B yang diberi nama ORLIN sebagai sistem pemesanan berbasis digital yang memberikan banyak keuntungan bagi pelanggan, distributor dan prinsipal, dan secara tidak langsung memberikan manfaat kepada kesehatan masyarakat luas. 

Pandemi ini telah mengubah perilaku toko yang akhirnya menuntut jaringan toko terhubung secara digital agar tetap dapat tumbuh di tengah masa sulit ini.  Contohnya kegiatan kunjungan staf penjualan perusahaan ke toko menjadi terhambat karena pembatasan yang terjadi di beberapa area dan terjadi kasus stok yang kosong di beberapa lokasi karena pembatasan tersebut.

Apa saja keuntungan mengimplementasikan Orlin

  1. Distributor dapat dengan leluasa memperluas jangkauan bisnis mereka, tanpa batas wilayah dan jarak sehingga, Kesempatan membuka pasar dengan menjaring customer baru jadi lebih mudah.
  2. Mempermudah pemesanan barang sekaligus mengurangi interaksi antara sales dengan pemesan produk di lapangan.
  3. Teknologi digital yang akan memudahkan, mengamankan, sekaligus mendorong peningkatan usaha.
  4. Memanfaatkan kemajuan Teknologi untuk menyempurnakan pelayanan, memberikan kemudahan dalam kecepatan pemesanan produk 7x24jam, dengan seluruh perangkat yang ada.
  5. Mempercepat pemesanan produk melalui aplikasi, langsung menghubungkan pelanggan dan distributor

Kesalahan-Kesalahan Dasar dalam Proses Distribusi

Proses distribusi sebuah produk pada dasarnya adalah semua rangkaian pekerjaan yang cukup kompleks. Banyak stakeholders yang terlibat tidak hanya produsen atau prinsipal, namun mencakup juga pedagang grosir, peritel hingga sistem-sistem yang terlibat di dalamnya. Dalam perkembangannya, semakin banyak perusahaan yang menyadari bahwa kegiatan  bukanlah proses yang sederhana. Semakin luas cakupan distribusi, semakin beragam jenis produk maka berbagai tantangan baru harus dihadapi setiap harinya. Itulah mengapa saat ini aplikasi pendukung distribusi sebagai salah satu solusi distribusi yang efektif dan efisien untuk menangani kesalahan dasar dalam proses distribusi juga semakin berkembang.

Namun demikian, tetap ada beberapa isu-isu krusial yang sering terjadi dan harus diantisipasi perusahaan agar tidak berakibat signifikan bagi bisnis secara keseluruhan. Berikut ini ialah Kesalahan-kesalahan dasar dalam proses distribusi yang biasa terjadi pada pelaku bisnis.

Sumber: Unsplash.com

 

  • Salah Mengidentifikasi Pasar

Pasar adalah faktor paling utama pada setiap bisnis, begitu pula dalam distribusi.  Bedanya, distribusi sangat tergantung dengan demografi target pasar, diantaranya karakter calon pelanggan, usia, preferensi terhadap produk dan lain sebagainya. Secara umum, lokasi calon pelanggan dapat berkelompok di satu area. Target urban atau rural sangat menentukan bagaimana pola distribusi itu dibangun.

Target pasar juga harus mempertimbangkan pasar individu, keluarga atau korporasi. Tentu saja target pasar korporat tidak bisa didistribusikan melalui pengecer atau ritel. Pola perlakuan produsen/prinsipal  terhadap target pasarnya pun harus berbeda. Kesimpulannya, perusahaan harus dapat membangun pola distribusi berdasarkan pasar yang ditujunya.

  • Tidak Mengontrol Aktivitas Salesforce

Salesforce adalah ujung tombak distribusi. Namun masih sering  ditemui perusahaan yang belum mengontrol aktivitasnya dengan optimal. Sebagai contoh pelaporan yang masih manual, tidak terintegrasi dan tidak real-time.  Akibatnya pelaporan yang tidak tepat waktu, keputusan-keputusan strategis manajemen pun sering terlambat dieksekusi.

Selain itu, salesforce akan dibebani banyak tugas-tugas administratif yang akhirnya lebih banyak menghabiskan waktu daripada melakukan tugas utama mereka untuk ekspansi pasar.

Adanya digitalisasi salesforce juga akan meningkatkan akuntabilitas penjualan. Seluruh barang keluar dan terserap di retail atau pengecer dapat diketahui dengan baik.

  • Tidak mengontrol aktivitas pergudangan

sumber: freepik.com

Perusahaan-perusahaan distribusi yang kini marak tumbuh, masih ada yang menganggap gudang tak lebih dari tempat penyimpanan barang sementara sebelum disalurkan ke grosir atau pengecer.  Padahal, pergudangan adalah bagian penting dari aktivitas distribusi. Pengaturan stok di gudang akan mempengaruhi frekuensi produksi, cakupan pekerjaan salesforce bahkan naik turunnya harga produk.

Operasional gudang juga mencakup kebutuhan anggaran yang harus dikeluarkan oleh perusahaan. Manajemen yang baik harus mengetahui berapa lama barang optimal ada di gudang karena menyangkut kebutuhan anggaran dan besarnya produksi berikutnya. Faktor lain yang tidak bisa dilewatkan adalah pemilihan fasilitas gudang, penempatan persediaan, penempatan peralatan, dan fungsi penyimpanan di dalam gudang itu sendiri. 

Jika tidak dikelola dengan profesional serta menggunakan sistem yang didukung teknologi, pergudangan justru akan menimbulkan banyak kendala dalam proses distribusi.  

  • Kesalahan Membangun Rantai Pasok

Sudah menjadi pengetahuan dasar bahwa semakin panjang rantai pasok, maka harga produk semakin tinggi karena banyaknya channel yang harus dilalui. Penentuan mata rantai saluran distribusi dapat mempengaruhi kelancaran penjualan yang pada akhirnya akan berdampak pada profit, modal, risiko, dan efektivitas salesforce.

Rantai pasok pada dasarnya dipengaruhi dua hal pertama jenis barang dan kedua lokasi geografis. Barang-barang perishable (tingkat ketahanan pendek) tentu saja membutuhkan saluran distribusi yang lebih pendek untuk sampai ke tangan konsumen. Jika barang tersebut harus disalurkan ke lokasi dengan letak geografis yang jauh dari pabrik, maka akan dibutuhkan biaya pergudangan dan biaya transportasi yang lebih besar yang pada akhirnya berdampak pada harga jual.

Sementara barang-barang non perishable cenderung memiliki pola distribusi yang lebih panjang, karena semakin banyak perusahaan atau individu yang ingin terlibat mencari keuntungan.

 Dalam hal ini, peran prinsipal dan distributor menjadi sangat penting karena manajemennya harus melakukan riset kemudian menentukan rantai distribusi apa yang paling tepat untuk produk-produknya. Tentu saja ini pun membutuhkan evaluasi secara berkala.

Beberapa pertimbangan-pertimbangan manajemen dalam topik ini adalah sifat barang, sifat penyebaran, alternatif biaya, modal yang tersedia, tingkat, keuntungan, serta estimasi jumlah permintaan. 

Dengan aspek-aspek tersebut, perusahaan bisa menentukan panjang mata rantai dalam saluran distribusi yang dinilai paling tepat. Perusahaan yang memiliki saluran distribusi yang kompleks dengan banyak mata rantai membuat margin menjadi sangat tipis sehingga berisiko naiknya harga jual yang membuat produk menjadi tidak kompetitif di pasar. 

Implementasikan SFA Agar Penjualan Meningkat

Pada bisnis distribusi, tenaga penjualan yang lebih sering disebut dengan salesforce. Merekalah yang berada di lapangan, membuka peluang pasar, memonitor terserapnya produk hingga mengatur pengiriman barang ke grosir maupun ritel.  Kompleksitas tugas salesforce membuat setiap perusahaan diharuskan membangun dan mengimplementasi sistem yang dapat mengotomasi seluruh fungsi-fungsi yang ada didalamnya. Otomasi sistem penjualan ini sering disebut dengan Sales Force Automation (SFA).

Pada hampir seluruh bisnis, sales adalah ujung tombak laju pertumbuhan perusahaan. Profesi ini tidak heran selalu dibayar tinggi walaupun tantangan yang mengiringinya pun juga tinggi. Walaupun tugas utamanya adalah menghasilkan omzet, sejatinya setiap sales memiliki karakter yang berbeda tergantung dari jenis bisnis perusahaannya.

 

sumber: freepik.com

Pada dasarnya SFA adalah merupakan sebuah sistem yang dapat menyederhanakan proses-proses bisnis serta tugas-tugas yang biasanya dilakukan oleh tim penjualan (sales). Tujuannya adalah membuat proses bisnis menjadi lebih efisien dan tim sales pun dapat berfokus pada melakukan penjualan.

Berikut beberapa fungsi-fungsi yang dapat diotomasi oleh Sales Force Automation (SFA)

    1. Proses pemesanan dan pembelian
    2. Pelacakan seluruh proses penjualan
    3. Monitoring lokasi dan keberadaan sales dengan GPS
    4. KPI sales force
    5. Pelaporan dan analitik.

Lalu, sebenarnya apa sih fungsi dari implemenstasi Sales Force Automation (SFA)?

  1. Membuat manajemen sales menjadi lebih efisien

sumber: unsplash.com

 

Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, penjualan merupakan sebuah proses yang kompleks. Penjualan tidak saja proses serah terima barang dan kemudian terjadi transaksi, namun lebih dari itu banyak proses yang mengiringi untuk sampai pada transaksi tersebut. 

Misalnya saja, seorang sales harus mengetahui dengan pasti target pasarnya, mengenal wilayah distribusi produknya hingga mengetahui karakter para pelanggannya. Tugas berat lainnya adalah setiap salesforce diwajibkan membuat laporan berkala, yang seringkali masih ditemui dilakukan secara manual. Tidak dipungkiri, kerumitan proses-proses tersebut justru akhirnya menghabiskan lebih banyak waktu daripada tugas inti seorang sales yaitu meningkatkan omzet.

SFA membuat hampir seluruh proses diatas terdigitalisasi dan terintegrasi dengan fungsi-fungsi lain dalam bisnis. Pada akhirnya, SFA akan memudahkan pekerjaan salesforce dan membuat mereka dapat fokus pada pekerjaan utamanya untuk memperluas pasar dan mendapatkan pelanggan-pelanggan baru.

  1. Mempermudah proses Up selling dan Cross Selling

Melalui data-data penjualan yang termuat pada sistem, maka SFA dapat membantu proses-proses pemasaran diantaranya up selling dan cross selling. Kedua aktivitas ini pada dasarnya adalah bagian dari promosi atau gimmick marketing.  Dengan Sales Force Automation (SFA), tim penjualan dapat memutuskan produk mana yang dapat diberi program up selling dan mana yang bisa dilakukan cross selling.

Tujuannya, tentu saja akan meningkatkan jumlah produk yang terserap di pasar dan pada akhirnya memberi income baru bagi perusahaan.

  1. Menghemat waktu operasional

Salah satu manfaat yang bisa didapatkan dari Sales Force Automation (SFA) adalah dapat menghemat waktu, biaya dan tenaga tim penjualan. Jika dulunya butuh waktu yang lama untuk menyajikan laporan data pelanggan, mencatat laporan kunjungan harian dan aktivitas administrasi lainnya, dengan SFA Anda sudah bisa menyajikan data secara real time dan bisa diakses melalui smartphone Anda dimana pun.

Selain itu, SFA akan mengurangi kesalahan pada penginputan data untuk tugas-tugas penjualan yang dulu dilakukan manual dan memakan waktu yang cukup lama Artinya dengan SFA, staf penjualan dapat lebih mudah untuk update data tersebut kapanpun dan dimanapun karena berbasis cloud.

  1. Meningkatkan pelayanan dan membangun relasi dengan pelanggan

Aplikasi Sales Force Automation (SFA) ini dirancang untuk membantu bagian marketing dalam menarik dan mempertahankan pelanggan, account management dan yang paling penting untuk memberikan keuntungan dari penjualan. Selain itu Sales Force Automation (SFA) juga membantu para manajer baik pada aktivitas yang berhubungan langsung dengan pelanggan maupun aktivitas internal perusahaan yang selalu berjuang untuk memenuhi permintaan pelanggan.

Dengan pelayanan yang optimal terbentuk suatu hubungan relasi baik antara pelanggan dengan sales person.

Kunci Sukses Membangun Bisnis Distribusi

Kunci sukses membangun bisnis distribusi, Manajemen dan tata kelola perusahaan menjadi senjata penting untuk memenangkan persaingan. Tidak sedikit bisnis yang terdampak cukup signifikan akibat pandemi yang tak kunjung usai. Namun disisi lain, ada pula bisnis yang mendaur keuntungan karena pandemi ini. Salah satunya adalah bisnis logistik. Saat aktivitas manusia dibatasi, kebutuhan pengantaran hingga ke rumah menjadi hal yang sangat krusial. Tidak heran, jumlah pengiriman barang di masa pandemi melonjak drastis. Tidak cuma barang-barang sekunder maupun tersier, barang kebutuhan pokok pun termasuk fast moving consumer goods (FMCG) sudah sangat lazim dibeli dengan konsep delivery ke rumah.

Kondisi diatas juga mendorong tumbuhnya bidang bisnis baru seperti distribusi. Kebutuhan kecepatan dan kemudahan sampainya barang dengan tepat waktu membuat distributor-distributor baru bermunculan. Skala bisnisnya pun beragam, mulai dari skala kecil, menengah atau ekspansi perusahaan-perusahaan besar.

Namun demikian, persaingan bisnis seharusnya tetap menjadi konsen setiap pebisnis. Pengembangan manajemen dan tata kelola perusahaan menjadi senjata penting untuk memenangkan persaingan. Simak beberapa kiat untuk membangun bisnis distribusi

  1. Melakukan Riset dan Analisis Pasar Secara Berkala

Sangat penting untuk melakukan banyak riset pasar sebagai dasar pengambilan keputusan sebelum dan saat menjalankan bisnis. Riset tidak selalu berbentuk paperwork yang berat, namun lebih ke pengamatan kompetitor, kebutuhan pelanggan hingga tantangan-tantangan baru yang harus dihadapi Pasar merupakan faktor penting, karena adanya pasar akan menentukan arah produk yang akan didistribusikan nantinya. Jika pasar tepat, maka produk akan tersalurkan kepada target yang tepat pula. Jika hal ini terjadi, maka perputaran produk akan lancar dan menjadi kelancaran usaha pula.

Penggunaan data yang baik juga merupakan bagian dari riset dan analisis pasar. Data adalah dasar pengambil keputusan.

  1. Menentukan Rantai Distribusi Tepat

Rantai distribusi yang tepat merupakan poin yang paling krusial dalam mendistribusikan barang. Semakin sederhana rantai distribusi maka bisnis akan juga semakin efisien. Rantai distribusi yang panjang dan berbelit-belit akan menambah biaya  dan menambah pekerjaan manajemen. Pada dasarnya, distributor merupakan tangan pertama yang menyalurkan produk dari produsen ke retailer atau konsumen akhir.  Margin umumnya didapat dari potongan harga dari produsen hingga sampai ke konsumen akhir. Semakin banyak jenis dan kuantiti produk yang didistribusikan, maka potongan harganya pun semakin tinggi.

Distributor harus melakukan pembelian produk, melakukan penyimpanan produk, mengelompokkan produk hingga mengangkut produk sampai ke pengecer akhir. Bahkan perusahaan distribusi termasuk pihak yang bisa menyampaikan informasi mengenai segala hal yang berkaitan dengan produk dan melakukan promosi produk.

Seluruh kemampuan tersebut diaplikasikan membentuk rantai distribusi produk. Pada akhirnya, rantai distribusi adalah serangkaian aktivitas yang pada akhirnya akan berkaitan dengan seluruh proses distribusi barang. Rantai distribusi juga didefinisikan sebagai kegiatan pemindahan dan penyaluran barang atau jasa dari produsen hingga sampai ke konsumen. Dalam mata rantai mencakup berbagai hal mulai dari jenis, harga, jumlah dan tempat yang dibutuhkan. Tentu saja, rantai distribusi bisa saja berbeda pada setiap lokasi dan jenis barang, hal inilah yang membutuhkan kecermatan para distributor.

Sumber: freepik.com

  1. Kontrol Persediaan Barang dengan Seksama

Distributor yang baik, harus dapat menjamin ketersediaan stok barang di gudang, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas. Keberadaan barang di gudang sangat menentukan ketersediaan barang pasar, yang sangat menentukan kredibilitas merek. Keterlambatan pengiriman dapat membuat produk kompetitor dipilih oleh konsumen apalagi untuk barang-barang fast moving. Di sisi lain, pengontrolan barang juga menyangkut tanggal kadaluarsa yang sangat menentukan kualitas produk. keterlambatan pengiriman yang menyebabkan barang Anda menjadi kadaluarsa. Buatlah sistem inventori dengan teknologi yang cukup untuk mengetahui jumlah dan kebutuhan barang secara realtime.

  1. Memonitor Arus Kas

Manajemen keuangan pada dasarnya adalah penentu keberhasilan seluruh jenis bisnis. Pada bisnis distribusi, hal ini menjadi sangat krusial karena sistem pembayaran antara distributor dan pengecer bisa saja berbeda-beda untuk setiap produk atau produsen. Penggunaan teknologi pendukung sangat penting agar seluruh tagihan dan piutang serta kewajiban bisnis lainnya dapat dipatuhi tepat waktu.

 

  1. Membangun Salesforce yang solid.

Tidak dipungkiri sales force atau tenaga penjualan di lapangan adalah ujung tanduk distribusi barang. Mereka tidak sekedar membawa barang ke ritel, namun juga membangun strategi serta menjalin hubungan baik dengan peritel.  Sales force juga dituntut dapat membaca kondisi pasar, mengembangkan pasar hingga membuat laporan sebagai dasar pengambil keputusan manajemen.

Karena itulah, pengelolaan sales force selalu menjadi unsur penting yang harus menjadi konsentrasi manajemen.

Sales force juga perlu didukung aplikasi digital yang membuatnya leluasa bergerak tanpa terbebani oleh banyak laporan yang ribet sama seperti unsur-unsur lain.

 

Model Distribusi Industri Fast Moving Consumer Goods

Fast Moving Consumer Goods (FMCG) merupakan industri yang menjadi primadona bisnis distribusi di seluruh dunia. FMCG mencakup seluruh kebutuhan sehari-hari baik komoditas maupun non komoditas yang kepentingannya tidak dapat digantikan oleh barang lain. Produk FMCG biasanya memiliki masa simpan atau kadaluwarsa yang relatif singkat, karena sifatnya yang mudah rusak. Di Indonesia terdapat setidaknya empat kategori produk FMCG yaitu home care and personal care, food and beverages, rokok dan alkohol.

Home care and personal care meliputi  produk untuk perawatan rumah dan pribadi, seperti kosmetik, perlengkapan mandi, alat kebersihan, pakaian dan lain sebagainya. Sementara food and beverages adalah bahan-bahan makanan serta minuman yang bisa langsung dikonsumsi atau harus diolah terlebih dahulu diantaranya gula, kopi, teh, susu, mi instan dan biskuit.

 

Bagaimana perkembangan bisnis FMCG di tanah air?

Perkembangan jumlah penduduk, pergeseran pola perilaku  serta semakin menjamurnya produsen FMCG membuat industri ini sangat dinamis. Tuntutan konsumen akan ketersediaan barang yang cepat dan berkualitas membuat pelaku bisnis ini semakin kreatif dan inovatif, tidak saja dalam hal produksi namun juga di sisi marketing. Kini, channel pemasaran pun sudah melebar dengan hadirnya platform-platform digital yang membuat FMCG sama seperti produk lain. Tidak heran jika sudah banyak Ibu rumah tangga yang membeli sabun, kecap bahkan bumbu masak melalui online shop.

Statista.com, menyebutkan per kuartal ketiga 2020, bisnis FMCG di tanah air naik 8,8% (YoY) dengan persentase 19% dari total pengeluaran rumah tangga di Indonesia. Sementara trade/pasar terbesar masih berada di traditional trade. Selama pandemi, industri FMCG nyaris tidak berdampak signifikan dibandingkan sektor-sektor bisnis lain.

Perkembangan bisnis FMCG mendorong bisnis-bisnis pendukungnya pun bergerak maju, salah satunya distribusi. Semakin luas target penyebarluasan satu produk, maka distribusi pendukungnya pun harus lebih tersebar. Tidak heran, bisnis distribusi di tanah air termasuk bisnis yang tetap bertahan walau pandemi melanda.

Lalu, bagaimana model distribusi FMCG di Indonesia?

Dengan pasar tradisional sebagai saluran terbesar, model distribusi FMCG di tanah air masih sangat mengandalkan sales force.  Saluran tradisional disini, tidak berarti pasar tradisional, tetapi juga toko-toko kelontong, warung-warung bahkan pedagang kaki lima. Sales force tidak saja sebagai perantara antara produsen dan konsumen, tetapi juga pembangun hubungan dan kemitraan antara produsen dan grosir/peritel/pengecer.

 

 

Sebelum sampai ke tangan grosir atau ritel, sejatinya proses distribusi sudah dimulai dari pergudangan. Pertama,  produk  masuk  dari  supplier, saat  produk  masuk  ke  perusahaan  berarti  aliran produk dalam gudang ini sudah masuk ke dalam aktivitas receiving. Saat mengeluarkan  produk  dari  truk  ke docking  area, admin memiliki peran untuk mencocokkan kuantitas serta jenis  produk  yang  datang  dengan  faktur  pembelian. Aktivitas selanjutnya adalah storing yag memiliki beberapa detail  aktivitas  seperti menyimpan produk ke dalam tumpukan. Seluruh proses tersebut sering disebut inbound logistic.  Aktivitas terakhir adalah shipping, yaitu seluruh proses terkait pengiriman barang ke grosir atau peritel dan sering disebut outbond logistics.

 

Grosir di Indonesia dikenal dengan grosir besar dan grosir kecil. Perbedaannya ditentukan dari besar coverage area dan perputaran omzet-nya. Begitu juga dengan ritel atau pengecer. Ritel-ritel modern seperti minimarket biasanya memiliki perusahaan distribusi sendiri untuk mengefisienkan biaya dan membuat harga barang mereka menjadi lebih kompetitif.

 

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, banyak sekali tantangan distribusi FMCG di Indonesia seperti membuat titik-titik poin distribusi yang strategis, mengumpulkan dan menganalisis laporan dalam jumlah besar, mengevaluasi dan memprediksi penjualan, serta memilih aplikasi manajemen operasional yang dapat mengakomodir seluruh tantangan geografis dan manajemen. Tantangan tersebut membutuhkan penyelesaiannya sendiri-sendiri. Untuk menjawab tantangan tersebut dibutuhkan suatu sistem atau aplikasi digital yang dapat menjalankan serta memonitor seluruh fungsi distribusi.

Sumber: Freepik.com

Dengan perkembangan teknologi digital, semua permasalahan distribusi FMCG di Indonesia dapat diatasi. Scylla, Pronto dan Service desk dari Pratesis menjawab semua permasalahan distribusi dengan sistem yang saling terintegrasi satu sama lain. Sistem ini mendukung semua aktivitas bisnis mulai dari penjualan, stok barang, penanganan pelanggan, hutang piutang, pengantaran hingga laporan keuangan.

 

Semua data diolah dan diintegrasikan, dengan menggunakan platform berbasis cloud. Penggunaan cloud sendiri sebenarnya sudah sering dilakukan dalam kehidupan sehari-hari walaupun hal tersebut belum dapat banyak disadari. Platform berbasis cloud dipilih karena perusahaan tidak perlu menyediakan server dan storage, serta memikirkan biaya pemeliharaan. Selain itu, platform cloud terbilang lebih mudah dan terjangkau dibandingkan mereka harus mengintegrasikan data secara manual.

Strategi Distribusi yang Tepat, Cepat, dan Efisien

Perusahaan fast moving consumer goods (FMCG) membutuhkan strategi distribusi yang tepat, cepat, dan efisien. Produsen membutuhkan distribusi agar produk dari produsen bisa sampai ke konsumen dengan selamat.

Meskipun tampak sederhana, pada kenyataannya, proses perjalanan produk FMCG dari produsen ke konsumen, termasuk rumit. Oleh karena itu diperlukan strategi distribusi yang baik agar produk sampai di konsumen dengan baik pula.

Berikut strategi yang dapat diterapkan agar aktivitas bisnis lebih memuaskan:

Memilih distributor yang tepat

Strategi pertama, tentu saja memilih distributor yang tepat. Sebab, distributor yang tepat akan bekerja sesuai target bahkan visi dan misi produsen. Memilih distributor yang sesuai target pasar produsen akan membuat pekerjaan produsen menjadi lebih ringan. Produsen hanya tinggal menyerahkan produk pada distributor, untuk selanjutnya dikelola oleh distributor.

Menggunakan software pendukung

Melakukan distribusi, terutama dalam skala besar, ada kemungkinan perusahaan produsen akan mengalami kendala dalam mengatur prosesnya. Software seperti enterprise resource planning (ERP) atau Scylla Enterprise akan mempermudah pengawasan. Software bisnis ini bisa membantu mengatur proses distribusi dengan lebih efektif dan efisien. Cara kerjanya adalah menghubungkan divisi-divisi terkait. Software ini juga mengintegrasikan sistem laporan. Distribusi dan segala prosesnya pun dapat berlangsung lancar, aman, dan akurat.

Distribusi melalui website

Salah satu fasilitas di era digital adalah adanya website. Website bisa dimanfaatkan untuk distribusi produk. Caranya, masukkan semua produk di perusahaan Anda pada website yang Anda kembangkan sendiri ataupun melalui pihak ketiga.  Manfaatkan teknik SEO. Gunakan jasa SEO selama beberapa bulan agar produk Anda mudah dicari di mesin pencarian. Perlu diketahui, tingkat kompetisi di mesin pencarian termasuk ketat, karena bersaing dengan produk-produk yang ditawarkan di marketplace. Oleh karena itu, ketika ada produk baru, lakukan optimasi SEO secara intensif.

Tentukan area distribusi

Sebagai produsen, Anda harus menentukan area distribusi yang tepat sesuai produk perusahaan. Pahami perilaku konsumen Anda dan petakan dimana saja mereka berada. Lakukan survei agar Anda tahu daerah mana saja yang paling banyak peminatnya terhadap produk Anda. Lakukan mulai area terdekat dan fokuskan pada area lokal. Setelah area lokal sudah terpenuhi, barulah Anda bisa memperluas wilayah distribusi.

Siapkan alat transportasi

Salah satu faktor utama berhasilnya distribusi adalah adanya alat transportasi yang memadahi. Anda harus menentukan alat transportasi yang tepat. Sesuaikan dengan lokasi jangkauan distribusi dan perhitungkan biayanya. Memilih alat transportasi yang tepat, akan membuat distribusi semakin lancar dan biaya tidak terlalu besar.

Menjaga hubungan baik dengan distributor

Bisa dikatakan, distributor adalah pihak yang paling menentukan dalam bisnis Anda. Percuma memiliki produk yang berkualitas dan dibutuhkan banyak orang, kalau tidak dapat terdistribusi dengan baik. Oleh karena itu, jagalah hubungan baik dengan distributor. Terlebih jika Anda sudah mendapatkan distributor yang tepat dan sesuai. Teruslah menjalin komunikasi. Laporkan perubahan dan perkembangan pekerjaan setiap harinya.

Itulah beberapa strategi distribusi yang tepat, untuk mengoptimalkan pengiriman produk-produk Anda ke konsumen. Jangan lupa, lakukan evaluasi atas hasil penjualan dan kinerja para distributor, secara berkala. Tujuannya untuk mengetahui sejauh mana perkembangan bisnis Anda selama bekerja sama dengan distributor yang telah dipilih. Juga, untuk menentukan langkah selanjutnya dalam memilih strategi distribusi yang lebih efektif.

 

Photo by Tima Miroshnichenko from Pexels